19 Mei 2013

KUNJUNGAN KE DINAS PEMADAM KEBAKARAN KOTA BEKASI

bismillahirrohmanirrohiem






Salah satu kegiatan outdoor RA INTERAKTIF MUTIARA INSANI adalah kunjungan ke berbagain instansi terkait, guna memperoleh wawasan, ilmu dan
pengalaman baru atas kegiatan yang belum diketahui secara jelas bagi santri.

ini juga merupakan salah satu bentuk teknik pendidikan yang baik bagi santri, yaitu dengan melibatkan semua unsur alat penerima informasi dan ilmu, yaitu;

Audio, visiual dan kinetetik..

karenanya, kegiatan outdoor ini senantiasa memberi efek yang siginifikan terhadap perkembangan mental dan wawasan santri.

hasil dari berbagai kegiatan ini adalah;

peningkatan dalam hal komunikasi, adaptasi terhadap lingkungan sekitar, memiliki kepekaan terhadap aspek-aspek sosial.

hal ini juga dimaksudkan untuk merangsang Kecerdasan Emosional santri, yang merupakan salah satu dari multi kecerdasan yang patut mendapat perhatian khusus.

Pengembangan potensi multi kecerdasan yang dikembangan RA INTERAKTIF MUTIARA INSANI diharapkan menjadi keunikan dan ciri khas dari RA lain yang sejenis..

Karena, sebagaimana kita ketahui, kesuksesan seseorang tidak hanya dapat dibangun oleh kecerdasan intelegensi semata, DANIEL GOLEMAN dalam bukunya EMOTIONAL INTELLIGENCE berhasil membuktikan, bahwa kecerdasan emosional memegang peranan penting terhadap kesuksesan dan keberhasilan seseorang di masa depan.

Demikian

MENDIDIK ANAK YANG SHOLEH


Mendidik Anak Yang Sholeh – Anak yang sholeh selalu menjadi kebanggaan dan harapan orang tua, hal ini karena hanya anak yang sholeh saja yang dapat memberi manfaat kepada orang tua di hari akhir nanti, selain tentu anak yang sholeh adalah permata hati bagi orang tua.
kali ini Buletin RA INTERAKTIF MUTIARA INSANI akan menjelaskan beberapa Teknik Mendidik Anak Menjadi Anak Yang Sholeh.
Memiliki anak yang tidak hanya cerdas, namun juga sholeh adalah suatu harapan bagi para orang tua dan para pendidik, namun sulitnya mencari teknik mendidik yang pas bagi anak, menyebabkan banyak hasil didikan tidak sesuai dengan yang diharapkan, karenanya banyak kita saksikan orang tua dan pendidik yang sholeh namun anak-anak (anak-anak didik) mereka jutsru sebaliknya.
Keimanan memang bukan suatu hal yang bisa diwarisi, namun upaya untuk mendidik anak secara benar memberi peluang yang besar bagi terciptanya anak yang sholeh, yang bahkan bisa lebih baik dari orang tua dan pendidiknya. Mengingat pentingnya mendidik anak yang sholeh ini, maka kami mengangkat tema ini dalam buletin kali ini, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua.
Ada beberapa langkah dan cara yang bisa dilakukan agar memiliki anak yang sholeh dan mulia. Berikut ini beberapa Teknik Mendidik Anak Agar Menjadi Anak Yang Sholeh:
1. Kenalkan anak dengan Islam sejak dini
Mengenalkan Islam dan nilai-nilai kebaikan harus sudah dimulai pada saat anak berada di alam kandungan. Hal ini karena anak yang di dalam kandungan telah memiliki hubungan psikologis dengan ibu yang mengandungnya.
Karenanya, bayi yang ada di kandungan mampu merespon apapun yang dilakukan oleh ibu yang mengandungnya, baik saat marah, sedih, senang dan bahagia,  termasuk merespon bacaan-bacaan Al-Quran yang dibacakan sang ibu.
Terlebih, setelah melalui penelitian panjang, Jacob Pietsching, dari University of Viena menyimpulkan bahwa musik mozart tidak mendorong kemampuan spasial bayi yang ada di dalam kandungan sebagaimana yang selama ini diyakini.
Yang benar, frekwensi bacaan Al-Quran lah yang mampu merangsang perkembangan otak anak dan meningkatkan kemampuan intelegensinya.
Bahkan dalam salah satu rekaman video yang diunggah ke youtube, sebagaimana link di bawah ini;
terlihat bayi di dalam kandungan sujud ketika dibacakan ayat-ayat Al-Quran, Subhanallah..!!
2. Mengenalkan Allah Pada Anak Sejak Dini
Mengenalkan Allah pada anak adalah tanggung jawab setiap orang tua dan pendidik muslim. Karenanya perlu memahami perkembangan pola berpikir anak ketika hendak mengajarkan
ma’rifatullah ini. Mengenalkan Allah melalui akal dan melihat ayat-ayat kauniyah adalah metode yang bisa dipilih guna merangsang motorik dan daya berfikirnya.
Generasi Rabbani akan terbentuk ketika kehidupan generasi muda mengenal dan menjadi sangat dekat dengan Allah SWT. Berikut ini adalah beberapa cara untuk mengenalkan Allah SWT pada anak:
1.      Melibatkan Allah pada setiap percakapan orang tua dengan anak. Misalnya ketika orang tua memberikan pujian untuk anak yang mau membereskan mainannya sendiri, ucapkan “Subhanallah, Adik memang rajin. Allah pasti sayang sama anak yang rajin”
2.      Memperkenalkan nikmat dan kasih sayang Allah melalui fungsi tubuhnya. Misalnya ketika orang tua bermain dengan anak, cobalah untuk menutup mata anak dan memintanya berjalan dengan mata tertutup. Ketika ia kesulitan, saat itulah sang orang tua menunjukan karunia Alloh dengan menjelaskan fungsi mata yang Alloh karuniakan kepadanya, hingga ia senantiasa bersyukur atas anugerah yang telah Alloh berikan.


3.      Membiasakan mengajak anak untuk berdoa kepada Allah, misalkan sebelum tidur, sebelum dan sesudah makan, pada saat turun hujan, dan lain-lain. Hal ini berguna untuk mengenalkan pada anak bahwa Allah adalah tempat meminta dan memohon segala sesuatu.
4.      Hindari menakut-nakuti anak dengan hukuman atau azab Allah. Sebaliknya perkenalkan anak dengan konsep pahala, rezeki, dan surge, hal ini karena menumbuh kembangkan motivasi anak lebih baik daripada membunuh potensi dan kemampuannya.
5.      Keberadaan Allah SWT yang ghaib pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan dari anak. Karenanya sudah sepantasnya orang tua membekali diri dengan pengetahuan Ma’riftullah yang benar dengan mengikuti kajian Islam atau dengan banyak membaca buku pengetahuan Islam dan mempelajari cara berkomunikasi yang efektif dengan anak.
3. Tanamkan Kecintaan Terhadap Islam
Cara mendidik anak agar hidup shaleh dan mulia tentu saja dimulai sejak anak dalam kandungan, namun peran nyata mendidik anak baru terlihat setelah anak lahir.
Karenanya, sejak dini tanamkan rasa bangga anak terhadap Islam, baik dengan menceritakan kisah perjalanan hidup Nabi, sahabat ataupun kisah orang-orang shalih, atau bahkan kisah orang tua selaku orang terdekatnya

Kisah-kisah ini akan sangat membekas dalam sanubari anak, mengingat jiwa anak yang masih IMITATIF dan IMAGINATIF.
Dilanjutkan dengan mengenalkan kewajiban-kewajiban Islam sedini mungkin, disertai dengan fungsi dan hikmahnya, hal ini memiliki beberapa manfaat sekaligus;
·        Membiasakan anak dalam hal ibadah
·        Mendidik anak memahami fungsi, hikmah dan tujuan ibadah yang dilaksanakan. Sehingga ia akan senantiasa belajar untuk meraih ketiga hal tersebut (fungsi, hikmah dan tujuan) dalam setiap aktivitasnya.
·        Memahami fungsi dan hikmah juga membantu membangun pola berpikir anak yang dinamis.



4. Memberikan Keteladanan
keteladanan dari orang tua/Pendidik sangat berperan penting dalam perkembangan karakter dan kesholehan anak.
Sekali lagi, hal ini karena sifat IMITATIF (meniru) anak yang sedang mencari karakter, dan seiring perkembangan psikologinya, sifat IMITATIF anak terhadap perilaku orang-orang terdekatnya akan menjadi lebih dominan dibandingkan sifat imitatif terhadap ucapan/perkataan.

5. Memberikan Reward and Punishment
Reward/penghargaan atas sikap baik dan prestasi anak akan sangat memotivasi dan memberi sugesti positif bagi anak, dan ini menjadi penting sebagai bukti prestasi anak atas apa yang diharapkan orang tua atau pendidiknya.

Demikian juga halnya punishment/sanksi atas sikap anak yang kurang baik, akan memberikan efek jera bagi anak. Namun terkhusus sanksi, berikan anak kesempatan untuk memilih sendiri sanksi yang akan ia terima jika ia melewatkan suatu kebaikan atau melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, hal ini demi menciptakan nilai tanggung jawab dan komitmen pada diri anak, karena sanksi itu berasal dari komitmen anak sendiri, maka ia tidak merasa mendapat tekanan dari eksternal, hal ini justeru akan menambah spirit atas komitmennya dalam kebaikan.

PENUTUP
Demikinalah beberapa metode yang dapat dilakukan baik oleh orang tua maupun pendidik dalam menciptakan generasi religius yang sangat diharapkan.
Demikianlah metode pendidikan yang telah dan sedang kami praktekan dalam metode pendidikan di RA. INTERAKTIF MUTIARA INSANI.
Demikian pembahasan buletin kali ini, Semoga harapan kita mendapatkan anak-anak yang sholeh menjadi kenyataan, Amiin.
Wassalam...


(Asmunah, S.pd.I)


16 Mei 2013

BEBERAPA METODE PEMBELAJARAN UNTUK ANAK USIA DINI



Bismillahirrohmaanirrohiem

Pendidikan adalah hal yang mutlak harus dimiliki oleh semua orang baik tua maupun muda, di edisi pertama Buletin Mutiara Insani ini, kami akan menjelaskan Metode Pembelajaran Untuk Anak Usia Dini.
Pendidikan sangatlah penting untuk bekal menghadapi dunia dimasa yang akan datang, maka dari itu pendidikan harus mulai diajarkan pada anak usia dini.
Walaupun pendidikan berlangsung sepanjang hayat, namun menurut Maria Montessori, enam tahun pertama masa anak adalah jangka waktu yang paling penting bagi perkembangannya yang mana enam tahun pertama inilah yang akan membentuk karakter si anak.
Tahun prasekolah menjadi masa anak membina kepribadian mereka. Karenanya, setiap usaha yang dirancang untuk mengembangkan minat dan potensi anak harus dilakukan pada masa awal ini untuk membimbing anak menjadi diri mereka dengan segala kelebihannya. Orangtua dan pendidik harus dapat membantu anak menyadari dan merealisasikan potensi anak untuk menimba ilmu pengetahuan, bakat, dan kepribadian yang utuh.
Metode Pembelajaran Untuk Anak Usia Dini
Acuan memilih metode pengajaran untuk anak usia 0-6 tahun menurut Penasehat Himpunan Tenaga Kependidikan Usia Dini, Dr. Anggani Sudono MA, adalah melibatkan anak dalam kegiatan belajar. Ketika di sekolah anak diajak memilih materi yang ingin dieksplorasi. Dengan begitu anak mendapat inspirasi dan belajar mengambil keputusan sendiri. Terdapat beberapa metode pengajaran yang disesuaikan dengan tahap usia anak:
Usia 0 – 3 tahun: anak dapat mengikuti kegiatan di sekolah taman bermain. Apapun metodenya, yang harus diperhatikan ialah hubungan komunikasi guru dengan anak, bagaimana cara guru itu berkomunikasi. Ketika mengajar, sebaiknya guru tidak mendominasi kegiatan anak.
Usia 5 tahun: berikan kegiatan yang dapat memberi kesempatan pada anak mengobservasi sesuatu. Sebaiknya pendidik tidak melulu mencontohkan lalu anak mengikuti. Tapi, biarkan anak mencoba-coba, misal: anak menggambar bunga dengan warna hijau, kuning atau biru.
Pendidik dapat memberikan kosakata baru pada anak dan membiarkan mereka merangkai kalimat.
Usia 6 – 12 tahun: perbanyak melatih kemampuan anak bercerita dan mempresentasikan apa yang mereka ketahui. Metode belajar ditekankan pada bagaimana anak berpikir kreatif, misalnya ketika menjelaskan suatu hal atau benda. 

Salah satunya dengan metode main maping, yaitu membuat jaringan topik. Misal, minta anak menjelaskan konsep meja dan biarkan anak memaparkan satu persatu pengetahuannya tentang meja mulai dari berbagai bentuk, fungsi sampai jumlah penyangganya.
Proses belajar-mengajar yang baik adalah jika anak berinteraksi dengan pendidik, yaitu orangtua dan guru. Maka pendidik harus pandai menciptakan situasi yang nyaman, membangkitkan semangat belajar, dan anak antusias belajar dengan memberikan metode pengajaran yang tepat.
Jika tipe belajar anak lebih aktif melalui alat pendengarannya (auditif ), maka anak diajarkan dengan mendengarkan kaset yang diselingi dengan menunjukkan gambarnya (demonstrasi). dapat juga dengan memutarkan video agar anak dapat melihat (visual) dengan jelas apa yang terjadi (kinestetik). Dengan harapan, tujuan pembelajaran akan lebih mudah tercapai.
 Berikut ini beberapa metode pengajaran yang dapat dilakukan, metode ini saling melengkapi antara metode yang satu dengan yang lain, metode-metode itu adalah sebagai berikut :
-        Metode Global (Ganze Method)
Anak belajar membuat suatu kesimpulan dengan kalimat dan tekniknya sendiri. Contohnya, ketika membaca buku, minta anak menceritakan kembali dengan rangkaian katanya sendiri. Sehingga informasi yang anak peroleh dari hasil belajar sendiri akan dapat diserap lebih lama. Anak juga terlatih berpikir kreatif dan berinisiatif.
-        Metode Percobaan (Experimental method)
Metode pengajaran yang mendorong dan memberi kesempatan anak melakukan percobaan sendiri. Menurut Asmunah, Spd.I, staf pengajar di RA MUTIARA INSANI, Kota Bekasi, terdapat tiga tahapan yang dilakukan anak untuk memudahkan masuknya informasi, yaitu: 1. Mendengar; 2. Menulis atau menggambar lalu melihat dan; 3. Melakukan percobaan sendiri.
Misalnya, anak belajar tentang Toko Buku, pendidik tak hanya menjelaskan tentang toko buku, menuliskan cerita tentang Toko Buku dan menggambar Toko Buku, tapi juga mengajak anak ke Toko Buku untuk mengeksplorasi pengalaman secara personal mengenai Toko Buku. Dengan belajar melalui metode percobaan, anak dapat mengamati dan mengalami sesuatu secara konkret. Kegiatan ini dapat dilakukan mulai umur empat sampai 12 tahun.
-        Metode Resitasi (Recitation Method)
Berdasarkan pengamatan sendiri, minta anak membuat resume. Asmunah menambahkan, pada usia 4 12 tahun merupakan masa kritis anak yang selalu menanyakan, Mengapa begini dan begitu?.
Misalnya anak bertanya, Mengapa pohon dapat tumbuh dan berbuah?
Libatkan anak untuk mengamati proses pertumbuhan pohon dan pembuahannya lalu minta anak menyimpulkannya sendiri.


-        Metode Latihan Keterampilan (Drill Method)
Kegiatan yang mewakili metode ini sering Anda lakukan bersama si kecil, yaitu membuat prakarya (artwork). Sekolah Learning Vision menggunakan metode ini untuk mendorong anak belajar menjalani proses ketika membuat patung dari lilin atau karya tiga dimensi lainnya. Selain melatih kemampuan motoriknya, seperti menulis, menggambar, menghias dan menggunakan alat-alat. Anda juga dapat mengajarkan anak berhitung secara konkret.
-        Metode Pemecahan Masalah (Problem solving Method)
Berikan soal-soal yang tingkat kesulitannya dapat disesuaikan dengan kemampuan anak. Lalu ajak anak mencari solusinya bersama-sama.
Metode ini dapat menjadi stimulan bagi akselarasi perkembangan kemampuan intelegensi anak.
-        Metode Perancangan (Project Method )
Kegiatan yang mengajak anak merancang suatu proyek yang akan diteliti sebagai objek kajian. Pola pikir anak menjadi lebih berkembang dalam memecahkan suatu masalah serta membiasakannya menerapkan pengetahuan, sikap dan keterampilan yang dimiliki.


-        Metode Bagian (Teileren Method)
Metode pengajaran ini mengaitkan sebagian-sebagian petunjuk yang mengarah pada sesuatu, seperti potongan puzzle yang digabungkan satu persatu.

PENUTUP
Demikian beberapa metode pembelajaran untuk usia dini, sebagai penutup kami tekankan hal yang terpenting dari ini semua, adalah sinergi antara pendidikan yang dilaksanakan tenaga pengajar di sekolah dengan pengajaran yang dilaksanakan para orang tua di rumah.
Nilai sinergi ini sangat penting, mengingat jika metode pendidikan yang dilaksanakan sekolah berbeda dengan metode pendidikan yang dilaksanakan di rumah, maka akan terjadi dualisme metode, dan anak akan mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan dua metode yang berbeda.
Demikianlah Metode Pembelajaran Untuk Anak Usia Dini , semoga metode – metode di atas bisa menjadi pedoman bagi para orantua yang mempercayakan pendidikannya di RA INTERAKTIF MUTIARA INSANI dalam mendidik anak, dan semoga generasi indonesia menjadi generasi yang berkualitas...