Mendidik Anak Yang Sholeh – Anak
yang sholeh selalu menjadi kebanggaan dan harapan orang tua, hal ini karena
hanya anak yang sholeh saja yang dapat memberi manfaat kepada orang tua di hari
akhir nanti, selain tentu anak yang sholeh adalah permata hati bagi orang tua.
kali ini Buletin RA INTERAKTIF MUTIARA
INSANI akan menjelaskan beberapa Teknik Mendidik Anak Menjadi Anak Yang Sholeh.
Memiliki anak yang tidak hanya cerdas, namun juga sholeh
adalah suatu harapan bagi para orang tua dan para pendidik, namun sulitnya
mencari teknik mendidik yang pas bagi anak, menyebabkan banyak hasil didikan
tidak sesuai dengan yang diharapkan, karenanya banyak kita saksikan orang tua dan
pendidik yang sholeh namun anak-anak (anak-anak didik) mereka jutsru
sebaliknya.
Keimanan memang bukan suatu hal yang bisa diwarisi,
namun upaya untuk mendidik anak secara benar memberi
peluang yang besar bagi terciptanya anak yang sholeh, yang bahkan bisa lebih
baik dari orang tua dan pendidiknya. Mengingat pentingnya mendidik anak yang
sholeh ini, maka kami mengangkat tema ini dalam buletin kali ini, mudah-mudahan
dapat bermanfaat bagi kita semua.
Ada beberapa langkah dan cara yang bisa dilakukan agar
memiliki anak yang sholeh dan mulia.
Berikut ini beberapa Teknik Mendidik
Anak Agar Menjadi Anak Yang Sholeh:
1. Kenalkan anak dengan Islam sejak dini
Mengenalkan Islam dan nilai-nilai
kebaikan harus sudah dimulai pada saat anak berada di alam
kandungan. Hal ini karena anak yang di dalam
kandungan telah memiliki hubungan psikologis dengan ibu yang mengandungnya.
Karenanya, bayi yang ada di kandungan mampu
merespon apapun yang dilakukan oleh ibu yang mengandungnya, baik saat marah,
sedih, senang dan bahagia, termasuk
merespon bacaan-bacaan Al-Quran yang dibacakan sang ibu.
Terlebih, setelah melalui penelitian panjang, Jacob
Pietsching, dari University of Viena menyimpulkan bahwa musik mozart
tidak mendorong kemampuan spasial bayi yang ada di dalam kandungan sebagaimana
yang selama ini diyakini.
Yang benar, frekwensi bacaan Al-Quran lah yang
mampu merangsang perkembangan otak anak dan meningkatkan kemampuan
intelegensinya.
Bahkan dalam salah satu rekaman video yang diunggah
ke youtube, sebagaimana link di bawah ini;
terlihat bayi di dalam kandungan sujud ketika
dibacakan ayat-ayat Al-Quran, Subhanallah..!!
2. Mengenalkan
Allah Pada Anak Sejak Dini
Mengenalkan Allah pada anak adalah tanggung jawab setiap orang tua dan
pendidik muslim. Karenanya perlu memahami
perkembangan pola berpikir anak ketika hendak mengajarkan
ma’rifatullah ini. Mengenalkan Allah melalui akal dan
melihat ayat-ayat kauniyah adalah metode yang bisa dipilih guna merangsang motorik dan daya berfikirnya.
Generasi Rabbani akan terbentuk ketika kehidupan
generasi muda mengenal dan menjadi sangat dekat dengan Allah SWT. Berikut ini
adalah beberapa cara untuk mengenalkan Allah SWT pada anak:
1.
Melibatkan Allah pada setiap percakapan orang tua dengan
anak. Misalnya ketika orang tua
memberikan pujian untuk anak yang mau membereskan mainannya sendiri, ucapkan “Subhanallah,
Adik memang rajin. Allah pasti sayang sama anak yang rajin”
2.
Memperkenalkan nikmat dan kasih sayang Allah melalui fungsi tubuhnya. Misalnya ketika orang tua bermain dengan anak, cobalah untuk menutup mata anak
dan memintanya berjalan dengan mata
tertutup. Ketika ia kesulitan, saat itulah sang orang tua
menunjukan karunia Alloh dengan menjelaskan fungsi mata yang Alloh karuniakan
kepadanya, hingga ia senantiasa bersyukur atas anugerah yang telah Alloh
berikan.
3.
Membiasakan mengajak anak untuk berdoa kepada Allah, misalkan sebelum tidur, sebelum dan sesudah makan,
pada saat turun hujan, dan lain-lain. Hal ini berguna untuk mengenalkan
pada anak bahwa Allah adalah tempat meminta dan memohon segala sesuatu.
4.
Hindari
menakut-nakuti anak dengan hukuman atau azab Allah. Sebaliknya perkenalkan anak
dengan konsep pahala, rezeki, dan surge, hal ini karena menumbuh
kembangkan motivasi anak lebih baik daripada membunuh potensi dan kemampuannya.
5.
Keberadaan
Allah SWT yang ghaib pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan dari anak. Karenanya sudah sepantasnya orang tua membekali diri
dengan pengetahuan Ma’riftullah yang benar dengan mengikuti kajian Islam
atau dengan banyak membaca buku pengetahuan Islam dan mempelajari cara
berkomunikasi yang efektif dengan anak.
3. Tanamkan Kecintaan Terhadap Islam
Cara mendidik anak agar hidup shaleh dan mulia tentu saja dimulai sejak anak dalam kandungan, namun peran nyata mendidik
anak baru terlihat setelah anak lahir.
Karenanya, sejak dini tanamkan rasa bangga anak
terhadap Islam, baik dengan menceritakan kisah perjalanan hidup Nabi, sahabat
ataupun kisah orang-orang shalih, atau bahkan kisah orang tua selaku orang
terdekatnya
Kisah-kisah ini akan sangat membekas dalam sanubari
anak, mengingat jiwa anak yang masih IMITATIF dan IMAGINATIF.
Dilanjutkan dengan mengenalkan
kewajiban-kewajiban Islam sedini mungkin, disertai
dengan fungsi dan hikmahnya, hal ini memiliki beberapa manfaat sekaligus;
·
Membiasakan
anak dalam hal ibadah
·
Mendidik
anak memahami fungsi, hikmah dan tujuan ibadah yang dilaksanakan. Sehingga ia
akan senantiasa belajar untuk meraih ketiga hal tersebut (fungsi, hikmah dan
tujuan) dalam setiap aktivitasnya.
·
Memahami
fungsi dan hikmah juga membantu membangun pola berpikir anak yang dinamis.
4. Memberikan Keteladanan
keteladanan dari orang tua/Pendidik sangat berperan
penting dalam perkembangan karakter dan kesholehan anak.
Sekali lagi, hal ini karena sifat IMITATIF (meniru)
anak yang sedang mencari karakter, dan seiring perkembangan psikologinya, sifat
IMITATIF anak terhadap perilaku orang-orang terdekatnya akan
menjadi lebih dominan dibandingkan sifat imitatif terhadap ucapan/perkataan.
5. Memberikan Reward and Punishment
Reward/penghargaan atas sikap baik dan prestasi
anak akan sangat memotivasi dan memberi sugesti positif bagi anak, dan ini
menjadi penting sebagai bukti prestasi anak atas apa yang diharapkan orang tua
atau pendidiknya.
Demikian
juga halnya punishment/sanksi atas sikap anak yang kurang baik, akan memberikan
efek jera bagi anak. Namun terkhusus sanksi, berikan anak kesempatan untuk
memilih sendiri sanksi yang akan ia terima jika ia melewatkan suatu kebaikan
atau melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, hal ini demi menciptakan nilai
tanggung jawab dan komitmen pada diri anak, karena sanksi itu berasal dari
komitmen anak sendiri, maka ia tidak merasa mendapat tekanan dari eksternal, hal
ini justeru akan menambah spirit atas komitmennya dalam kebaikan.
PENUTUP
Demikinalah beberapa metode yang
dapat dilakukan baik oleh orang tua maupun pendidik dalam menciptakan generasi
religius yang sangat diharapkan.
Demikianlah metode pendidikan yang telah dan sedang
kami praktekan dalam metode pendidikan di RA. INTERAKTIF MUTIARA INSANI.
Demikian pembahasan buletin kali ini, Semoga
harapan kita mendapatkan anak-anak yang sholeh menjadi kenyataan, Amiin.
Wassalam...
(Asmunah,
S.pd.I)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar