19 Mei 2013

MENDIDIK ANAK YANG SHOLEH


Mendidik Anak Yang Sholeh – Anak yang sholeh selalu menjadi kebanggaan dan harapan orang tua, hal ini karena hanya anak yang sholeh saja yang dapat memberi manfaat kepada orang tua di hari akhir nanti, selain tentu anak yang sholeh adalah permata hati bagi orang tua.
kali ini Buletin RA INTERAKTIF MUTIARA INSANI akan menjelaskan beberapa Teknik Mendidik Anak Menjadi Anak Yang Sholeh.
Memiliki anak yang tidak hanya cerdas, namun juga sholeh adalah suatu harapan bagi para orang tua dan para pendidik, namun sulitnya mencari teknik mendidik yang pas bagi anak, menyebabkan banyak hasil didikan tidak sesuai dengan yang diharapkan, karenanya banyak kita saksikan orang tua dan pendidik yang sholeh namun anak-anak (anak-anak didik) mereka jutsru sebaliknya.
Keimanan memang bukan suatu hal yang bisa diwarisi, namun upaya untuk mendidik anak secara benar memberi peluang yang besar bagi terciptanya anak yang sholeh, yang bahkan bisa lebih baik dari orang tua dan pendidiknya. Mengingat pentingnya mendidik anak yang sholeh ini, maka kami mengangkat tema ini dalam buletin kali ini, mudah-mudahan dapat bermanfaat bagi kita semua.
Ada beberapa langkah dan cara yang bisa dilakukan agar memiliki anak yang sholeh dan mulia. Berikut ini beberapa Teknik Mendidik Anak Agar Menjadi Anak Yang Sholeh:
1. Kenalkan anak dengan Islam sejak dini
Mengenalkan Islam dan nilai-nilai kebaikan harus sudah dimulai pada saat anak berada di alam kandungan. Hal ini karena anak yang di dalam kandungan telah memiliki hubungan psikologis dengan ibu yang mengandungnya.
Karenanya, bayi yang ada di kandungan mampu merespon apapun yang dilakukan oleh ibu yang mengandungnya, baik saat marah, sedih, senang dan bahagia,  termasuk merespon bacaan-bacaan Al-Quran yang dibacakan sang ibu.
Terlebih, setelah melalui penelitian panjang, Jacob Pietsching, dari University of Viena menyimpulkan bahwa musik mozart tidak mendorong kemampuan spasial bayi yang ada di dalam kandungan sebagaimana yang selama ini diyakini.
Yang benar, frekwensi bacaan Al-Quran lah yang mampu merangsang perkembangan otak anak dan meningkatkan kemampuan intelegensinya.
Bahkan dalam salah satu rekaman video yang diunggah ke youtube, sebagaimana link di bawah ini;
terlihat bayi di dalam kandungan sujud ketika dibacakan ayat-ayat Al-Quran, Subhanallah..!!
2. Mengenalkan Allah Pada Anak Sejak Dini
Mengenalkan Allah pada anak adalah tanggung jawab setiap orang tua dan pendidik muslim. Karenanya perlu memahami perkembangan pola berpikir anak ketika hendak mengajarkan
ma’rifatullah ini. Mengenalkan Allah melalui akal dan melihat ayat-ayat kauniyah adalah metode yang bisa dipilih guna merangsang motorik dan daya berfikirnya.
Generasi Rabbani akan terbentuk ketika kehidupan generasi muda mengenal dan menjadi sangat dekat dengan Allah SWT. Berikut ini adalah beberapa cara untuk mengenalkan Allah SWT pada anak:
1.      Melibatkan Allah pada setiap percakapan orang tua dengan anak. Misalnya ketika orang tua memberikan pujian untuk anak yang mau membereskan mainannya sendiri, ucapkan “Subhanallah, Adik memang rajin. Allah pasti sayang sama anak yang rajin”
2.      Memperkenalkan nikmat dan kasih sayang Allah melalui fungsi tubuhnya. Misalnya ketika orang tua bermain dengan anak, cobalah untuk menutup mata anak dan memintanya berjalan dengan mata tertutup. Ketika ia kesulitan, saat itulah sang orang tua menunjukan karunia Alloh dengan menjelaskan fungsi mata yang Alloh karuniakan kepadanya, hingga ia senantiasa bersyukur atas anugerah yang telah Alloh berikan.


3.      Membiasakan mengajak anak untuk berdoa kepada Allah, misalkan sebelum tidur, sebelum dan sesudah makan, pada saat turun hujan, dan lain-lain. Hal ini berguna untuk mengenalkan pada anak bahwa Allah adalah tempat meminta dan memohon segala sesuatu.
4.      Hindari menakut-nakuti anak dengan hukuman atau azab Allah. Sebaliknya perkenalkan anak dengan konsep pahala, rezeki, dan surge, hal ini karena menumbuh kembangkan motivasi anak lebih baik daripada membunuh potensi dan kemampuannya.
5.      Keberadaan Allah SWT yang ghaib pasti akan menimbulkan banyak pertanyaan dari anak. Karenanya sudah sepantasnya orang tua membekali diri dengan pengetahuan Ma’riftullah yang benar dengan mengikuti kajian Islam atau dengan banyak membaca buku pengetahuan Islam dan mempelajari cara berkomunikasi yang efektif dengan anak.
3. Tanamkan Kecintaan Terhadap Islam
Cara mendidik anak agar hidup shaleh dan mulia tentu saja dimulai sejak anak dalam kandungan, namun peran nyata mendidik anak baru terlihat setelah anak lahir.
Karenanya, sejak dini tanamkan rasa bangga anak terhadap Islam, baik dengan menceritakan kisah perjalanan hidup Nabi, sahabat ataupun kisah orang-orang shalih, atau bahkan kisah orang tua selaku orang terdekatnya

Kisah-kisah ini akan sangat membekas dalam sanubari anak, mengingat jiwa anak yang masih IMITATIF dan IMAGINATIF.
Dilanjutkan dengan mengenalkan kewajiban-kewajiban Islam sedini mungkin, disertai dengan fungsi dan hikmahnya, hal ini memiliki beberapa manfaat sekaligus;
·        Membiasakan anak dalam hal ibadah
·        Mendidik anak memahami fungsi, hikmah dan tujuan ibadah yang dilaksanakan. Sehingga ia akan senantiasa belajar untuk meraih ketiga hal tersebut (fungsi, hikmah dan tujuan) dalam setiap aktivitasnya.
·        Memahami fungsi dan hikmah juga membantu membangun pola berpikir anak yang dinamis.



4. Memberikan Keteladanan
keteladanan dari orang tua/Pendidik sangat berperan penting dalam perkembangan karakter dan kesholehan anak.
Sekali lagi, hal ini karena sifat IMITATIF (meniru) anak yang sedang mencari karakter, dan seiring perkembangan psikologinya, sifat IMITATIF anak terhadap perilaku orang-orang terdekatnya akan menjadi lebih dominan dibandingkan sifat imitatif terhadap ucapan/perkataan.

5. Memberikan Reward and Punishment
Reward/penghargaan atas sikap baik dan prestasi anak akan sangat memotivasi dan memberi sugesti positif bagi anak, dan ini menjadi penting sebagai bukti prestasi anak atas apa yang diharapkan orang tua atau pendidiknya.

Demikian juga halnya punishment/sanksi atas sikap anak yang kurang baik, akan memberikan efek jera bagi anak. Namun terkhusus sanksi, berikan anak kesempatan untuk memilih sendiri sanksi yang akan ia terima jika ia melewatkan suatu kebaikan atau melakukan suatu perbuatan yang tidak baik, hal ini demi menciptakan nilai tanggung jawab dan komitmen pada diri anak, karena sanksi itu berasal dari komitmen anak sendiri, maka ia tidak merasa mendapat tekanan dari eksternal, hal ini justeru akan menambah spirit atas komitmennya dalam kebaikan.

PENUTUP
Demikinalah beberapa metode yang dapat dilakukan baik oleh orang tua maupun pendidik dalam menciptakan generasi religius yang sangat diharapkan.
Demikianlah metode pendidikan yang telah dan sedang kami praktekan dalam metode pendidikan di RA. INTERAKTIF MUTIARA INSANI.
Demikian pembahasan buletin kali ini, Semoga harapan kita mendapatkan anak-anak yang sholeh menjadi kenyataan, Amiin.
Wassalam...


(Asmunah, S.pd.I)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar